Jumat, 24 Juni 2011

Warga Belasan Desa Krisis Air Bersih

Sat, Apr 30th 2011, 09:16

LHOKSUKON - Warga belasan desa di Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, hingga kini belum bisa menikmati air bersih. Padahal, tahun 2008, aparat dari sejumlah desa di kawasan itu telah mengirim surat kepada PDAM Tirta Mon Pase Aceh Utara, untuk membangun jaringan air bersih ke kawasan tersebut. Namun, hingga saat ini usulan itu belum juga terealisasi.

Desa itu yakni Desa Matang Mane, Matang Serdang, Lhok Beuringen, Lhok Merbo, Alue Papeun, Biara Timu, Biara Barat, Lhok Bintang Hu, Cot Biek, Ulee Glee, Biram Rayeuk, dan Biram Cut.

Sekdesa Matang Mane, Rusli, kepada Serambi, kemarin, menjelaskan, kini mereka menggunakan air sumur hanya untuk mencuci dan mandi. Sedangkan untuk memasak dan minum, terpaksa membeli air bersih dengan harga Rp 5.000 per jeriken karena air sumurnya tak layak minum. “Kami harap, PDAM segera membangun jaringan air bersih ke daerah kami,” harap Rusli yang dibenarkan Keuchik Biara Timu, Nurdin Abdurahman.

Humas PDAM Tirta Mon Pase, Tarmizi AR, mengakui pihaknya telah menerima surat permohonan pembukaan jaringan PDAM ke sejumlah desa di Kecamatan Tanah Jambo Aye dan Seunuddon. Namun, kata Tarmizi, pihaknya tak bisa segera membangun jaringan ke kawasan itu karena tak memiliki dana yang memadai. “Sekarang, kita sedang berupaya melobi pemerintah pusat dan lembaga donor di Jakarta untuk mau mengembangkan jaringan air bersih ke kawasan itu. Kita upayakan tahun depan warga daerah itu sudah bisa menikmati air PDAM,” jelas Tarmizi.

Air PDAM macet
Sementara itu pelanggan PDAM Tirta Krueng Peusangan mengeluh karena suplai air bersih ke kawasan itu sejak Jumat (29/4) sejak pukul 05.00 WIB hingga sore kemarin macet. Sehingga mereka kesulitan memperoleh air bersih terutama untuk konsumsi, mandi, mencuci, dan berbagai keperluan lainnya. Daerah yang air PDAM-nya macet anatara lain Kecamatan Juli, Kota Juang, Jeumpa, Kuala, Peusangan, Jangka, dan Kutablang.

“Kami hari ini (kemarin-red) tidak bisa mandi, mencuci, dan hal lain karena air PDAM ngadat. Kami kewalahan mencari air bersih lain lantaran kebutuhan air bersih kami hanya berharap dari PDAM. Jika pun untuk minum kami terpaksa membeli air isi ulang, ke depan kami berharap, jika suplai air macet, PDAM hendaknya memberitahu kepada pelanggan melalui media massa atau pengumuman yang ditempel di tempat-tempat umum,” ujar Maldi, warga Cot Gapu.

Dirut PDAM Tirta Krueng Peusangan, Isfadli, mengakui hal tersebut. Dikatakan, macetnya supali air ke pelanggan karena air Krueng Peusangan keruh. Karena saat diolah airnya tak kunjung bersih, kata Isfadli, sehingga pihaknya terpaksa memutuskan sementara suplai air ke pelanggan. “Kami meminta maaf kepada pelanggan atas kejadian ini dan kami akan berupaya untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan,” katanya.(c46/c38)

Sumber : Serambinews.com

Erosi Mengganas, Pompa Air Terancam Ambruk ke Sungai

Fri, Apr 29th 2011, 09:06

LHOKSUKON - Erosi sungai disejumlah desa di Kecamatan Sawang, Aceh Utara akhir-akhir ini semakin mengganas. Selain puluhan meter kebun ambruk ke sungai, kini mesin pompa air di Meunasah Krueng Baro juga terancam mengalami nasib serupa.

“Selama ini pompa air itu dimanfaatkan untuk mengaliri air ke sawah. Jika ambruk, ratusan hektare di kawasan kami tak bisa digarap lagi,” kata Keuchik Lhok Bayu, Zulkifli kepada Serambi, Kamis (28/4).

Menurutnya, warga desanya juga sudah kali memindahkan lokasi pompa air supaya tdak ambruk ke sungai akibat mengganasnya erosi. “Sebelumnya tidak terlalu parah, tapi karena tak ada pancangan sejak awal, di lokasi tertentu sudah seratusan meter kebun warga yang ditanami kakao, pinang dan kelapa serta tanaman lain ambruk ke sungai,” katanya yang dibenarkan Mustafa Kamal (28), warga Lhok Kuyuen.

Dirincikan, desa yang terkena erosi itu di antaranya, Desa Krueng Baro, Lhok Bayu, Lhok Kuyuen, Paya Rabo, dan Rambong Payong dan Desa Lhok Gajah. Namun, erosi di Lhok Gajah kini sudah tertangani setelah dibangun beronjong. Karena itu, Zulkifli berharap dinas terkait segera mencari solusi untuk mengatasi masalah tersebut.

“Jika tidak, kita prediksikan erosinya makin parah. Bahkan, kini di lokasi tertentu rumah warga makin dekat dengan pinggir sungai yang terkena erosi,” katanya.(c37)

Sumber : Serambinews.com

Selasa, 21 Juni 2011

Kementerian BUMN Akan Revitalisasi Perkebunan di Aceh

Wed, Apr 20th 2011, 07:56

BANDA ACEH - Kementrian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui PTPN-I akan melaksanakan revitalisasi perkebunan di Kabupaten Aceh Utara seluas 2.950 hektare pada 2014 mendatang dalam rangka meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat pedesaan.

Kepala Humas dan Informasi Kabupaten Aceh Utara, Azhari Hasan, di Lhokseumawe, Selasa (19/4) mengatakan, kepastian revitalisasi perkebunan tersebut diketahui setelah pertemuan antara Bupati Aceh Utara Ilyas A Hamid dengan Direktur Utama PTPN-I di Medan, Sumatera Utara Medan, belum lama ini.

Kementerian BUMN sebagai pencetus dan pelaksana program revitalisasi perkebunan di Kabupaten Aceh Utara bertekad akan menyelesaikan pelaksanaan program tersebut pada 2014. Kedua pihak yakni Pemkab Aceh Utara dan Management PTPN-I selaku perpanjangan tangan BUMN sebagai pelaksana program berupaya mencari berbagai solusi dan masukan untuk kelancaran pelaksanaan percepatan penyelesaian program revitalisasi itu.

Azhari menambahkan, Pemkab Aceh Utara telah menyediakan lahan untuk program revitalisasi seluas 2.950 haktare yang tersebar di sejumlah kawasan kecamatan yakni, Kecamatan Langkahan, Geureudong Pase, Tanah Luas, Lhoksukon, Paya Bakong dan Kecamatan Meurah Mulia. “Jadi, revitalisasi perkebunan kini menjadi prioritas penting untuk tumbuhnya perekonomian masyarakat disamping adanya penyerapan tenaga kerja,” katanya.

Rapat kedua pihak ini, bukan hanya membahas percepatan revitalisasi perkebunan saja, tapi dalam kesempatan itu juga Pemkab Aceh Utara juga mencari solusi terhadap ketergantungan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari Migas yang setiap tahunnya semakin menurun. Oleh sebab itu kata Azhari, Pemkab Aceh Utara mengharapkan kepada Management PTPN-I untuk secepatnya merealisasikan keinginan dari Kementrian BUMN terhadap penyelesaian revitasliasi sesuai target yakni tahun 2014.

Dari Pemkab Aceh Utara sendiri, tambah Azhari, bersama DPRK setiap tahunnya mengalokasikan anggaran untuk perkebunan rakyat dan pertanian di dalam APBK sesuai dengan kemampuan keuangan daerah.

Alokasi anggaran tersebut dikarenakan potensi geografis wilayah Aceh Utara sangat menjamin kehidupan perkebunan disamping sarana inprastuktur seperti jalan penghubung telah dibangun untuk kelancaran transportasi. Dalam kesempatan itu juga pihak PTPN-I juga meminta kepada semua pihak untuk mendukung kelancaran program ini demi kesejahtraan khususnya masyarakat Aceh Utara itu sendiri dan umumnya Provinsi Aceh, kata Azhari Hasan. (ant)

Sumber : Serambinews.com

Polisi Langkahan Amankan Dua Ton Kayu

Tue, Apr 19th 2011, 16:04

LHOKSUKON – Dua ton kayu diamankan petugas Polsek Langkahan, Aceh Utara, Selasa (19/4). di kawasan Desa Tanjung Dalam. Jenis kayu Merbo dan damar itu sampai saat ini belum diketahui pemiliknya. Diduga hasil penebangan liar di kawasan Aceh Timur, dan dibawa melalui Kecamatan Langkahan, Aceh Utara.

Kapolres Aceh Utara, AKBP Farid BE, melalui Kapolsek Langkahan, Ipda M Jafaruddin SE, kepada Serambinews.com, menyebutkan sekitar pukul 04.00 dinihari mereka melakukan patroli rutin. Mereka temukan satu truk Colt Diesel bernomor polisi BK 9216 BE terparkir di pinggir jalan.

Setelah diperiksa, isinya kayu jenis merbo dan dama. "Kita curiga, maka truk yang berisi kayu itu diamankan ke Mapolsek Langkahan. Kami curiga, sopirnya mengetahui kedatangan polisi, lalu kabur,” sebut Kapolsek. (masriadi sambo)

Sumber : Serambinews.com

Lima BUMN Siap Hidupkan Kembali PT AAF dan KKA

Mon, Apr 18th 2011, 10:16


Anggota Komisi VI DPR RI, Muhammad Azhari M Hum (pakai topi baju putih), meninjau Pabrik PT AAF di Desa Keude Krueng Geukuh, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara, Minggu (17/4). PT AAF akan dihidupkan kembali dan digabungkan dengan PT Pupuk Iskandar Muda.SERAMBI/MASRIADI

LHOKSUKON - Lima Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyaatakan siap ambil bagian dalam proses menghidupkan kembali PT Aceh Asean Ferlizer (AAF) dan PT Kertas Kraf Aceh (KKA). Kelima BUMN itu yakni PT Pupuk Iskandar Muda (PIM), PT Semen Gresik, PT Perhutani, PT Tambang Batu Bara Bukit Asam, dan PT Arun NGL.

“Sejak 31 Maret 2011, lima BUMN itu sudah resmi bergabung untuk menghidupkan kembali PT AAF dan KKA. PT PIM menjadi induk dari perusahaan pupuk di Aceh. Jadi, PT AAF nantinya akan menjadi PT PIM III. Sehingga, PIM memiliki PIM I, PIM II, dan PIM III,” jelas anggota Komisi VI DPR RI asal Aceh, Muhammad Azhari dalam pertemuan dengan Direktur Umum dan Sumber Daya Manusia PT PIM, Usman Mahmud, di Kompleks PT PIM, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, Minggu (17/4) kemarin.

Dikatakan, PT Tambang Batu Bara Bukit Asam nanti akan memasok batu bara sebagai bahan baku memproduksi pupuk. PT Perhutani akan memasok kayu pinus untuk bahan baku pembuatan kertas di PT KKA. Sementara PT Semen Gresik membeli kertas yang diproduksi PT KKA. Sedangkan PT Arun, pada 2012 mendatang akan menjadi terminal penyimpanan gas, untuk memasok gas pada pabrik pupuk dan industri lainnya di Aceh.

“Semuanya sudah disetujui oleh sembilan fraksi di DPR RI. Bahkan, Presiden SBY mengamanahkan agar industri di Aceh tetap hidup, bagaimana pun caranya,” ujarnya.

Ditambahkan, 31 Maret 2011 DPR RI telah menyetujui penambahan modal negara (PNM) Rp 1,31 triliun untuk PT PIM. Selain itu, tahun ini juga diberikan dana sebesar Rp 165 miliar untuk perawatan mesin dan instalasi pipa milik PT AAF. “Tambahan modal bagi PT PIM nanti akan digunakan untuk menghidupkan kembali PT AAF. Terkait penggunaan dana itu, kita minta PT PIM menyiapkan perencanaan bisnisnya,” kata politisi Partai Demokrat itu.

Khusus untuk PT KKA, menurutnya, investor Finlandia siap menanamkan modal 80 Juta Dolar AS untuk menghidupkan kembali perusahaan itu. “Kedatangan saya ke mari sekaligus untuk melihat kesiapan PT PIM untuk mengambil alih PT AAF serta melihat kondisi PT AAF dan PT KKA,” kata Azhari.

Sementara Usman Mahmud menyatakan PT PIM telah siap menghidupkan kembali PT AAF. “Saat ini, tim likuidator sedang melakukan proses penyerahan PT AAF kepada PT PIM. Mereka butuh waktu enam bulan ke depan untuk menyerahkan PT AAF ke PIM,” ujar Usman.

Setelah diserahkan oleh tim likuidator ke PIM, menurutnya, PT PIM membutuhkan waktu satu setengah tahun lagi untuk menghidupkan PT AAF. Karena, banyak mesin, pipa bawah tanah, dan reaktor pabrik itu yang harus diperbarui. Kini, kondisi mesin di AAF sebagian besar sudah tidak bisa digunakan lagi,” katanya seraya berharap proses menghidupkan PT AAF bisa berjalan seperti yang telah disepakati PT PIM, DPR RI, dan Kementerian BUMN RI.(c46)

Sumber : Serambinews.com

Senin, 13 Juni 2011

Revitalisasi Kebun Sawit Masyarakat Dipercepat

Sun, Apr 17th 2011, 07:58

LHOKSUKON - Kementerian BUMN Jakarta mempercepat pelaksanaan program revitalisasi (proses menghidupkan atau menggiatkan kembali-red) perkebunan sawit milik masyarakat di Aceh Utara. Sebelumnya, program itu direncanakan harus siap tahun 2016, kini dipercepat menjadi tahun 2014.

Hal itu disampaikan Bupati Aceh Utara, Ilyas A Hamid, kepada Serambi, kemarin, mengutip pernyataan Menteri BUMN Mustafa Abubakar dalam rapat Koordinasi dengan dirinya dengan PTPN-I di Jakarta, Jumat (15/4). “Percepatan itu dilakukan mengingat luas areal yang diplot mencapai 2.950 hektare disejumlah kecamatan di Aceh Utara,” ujarnya.

Dengan program revitalisasi itu, kata Ilyas, nantinya akan mampu menggerakkan perekonomian masyarakat yang terpuruh akibat konflik di Aceh. Apalagi, setelah gas di bumi Aceh Utara habis, tentunya sektor pertanian menjadi primadona. “Program revitalisasi tersebut terlaksana berkat kerja sama dengan dinas perkebunan, dinas pertanian, PTPN-I, dan pihaknya lain,” timpal Ilyas.

Untuk mendukung program tersebut, tambahnya, setiap tahun bupati bersama DPRK Aceh Utara menempatkan dana APBK untuk pengembangan perkebunan masyarakat, walau jumlahnya terbatas sesuai kemampuan daerah. “Maklum saja potensi geografi Aceh Utara yang begitu luas, selain itu sarana infra truktur juga mendadak membutuhkan dana perbaikan secara menyeluruh,” kata Ilyas.(ib)

Sumber : Serambinews.com

Warga Tangkap Piton Pemangsa Sapi

Fri, Apr 15th 2011, 16:41


WARGA Desa Alue Rimee, Kecamatan Pirak Timu, Aceh Utara, Jumat (15/4/2011), memperlihatkan seekor ular piton dengan panjang 8,5 meter dan berat 160 kilogram yang ditangkap dari kebun warga setempat. Ular itu telah memangsa puluhanapi dan kambing.MASRIADI

LHOKSUKON – Warga Desa Alue Rimee, Kecamatan Pirak Timu, Aceh Utara, Jumat (15/4/2011), menangkap seekor ular piton dengan panjang 8,5 meter dan berat 160 kilogram di salah satu kebun kacang milik warga setempat.
Raja, warga Desa Alue Rimee, kepada Serambinews.com, menyebutkan, mereka menangkap ular itu secara tidak sengaja. “Saat kami berkebun, terpijak ular. Ketika kami lihat, ular piton sangat besar sekali. Tidak sanggup bergerak, sepertinya sangat kenyang, sehingga sulit bergerak,” sebut Raja.
Disebutkan, ular itu diduga telah memakan sapi sebanyak sepuluh ekor dan kambing sebanyak lima ekor dalam kurun waktu setahun terakhir.(masriadi sambo)
--
Editor: ibrahim ajie

Senin, 06 Juni 2011

PKS Cot Girek Beroperasi Lagi

Mon, Apr 4th 2011, 09:17

LHOKSUKON - Setelah terhenti sehari lantaran dikabarkan terjadi kerusakan pada komponen mesin, Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Cot Girek, Aceh Utara, Minggu (3/2), kembali beroperasi. Pabrik itu adalah milik PT Perkebunan Nusantara 1 (PTPN 1) Langsa.

Kabag Humas PTPN 1 Langsa, Hasan Basri menjelaskan, tak ada kerusakan pada komponen mesin, tapi hanya perawatan biasa. “Biasanya, kita lakukan perawatan setiap hari Minggu. Namun karena kita lihat kondisi mendesak, makanya hari Sabtu kita lakukan perawatan pada salah satu boiler (tempat memasak sawit),” katanya kepada Serambi, Minggu (3/4).

Saat ini, menurutnya, PKS sudah beroperasi kembali. Ditambahkan, saat ini pihaknya akan menggiling buah sawit yang sudah masuk ke pabrik lebih dulu. Pabrik itu mampu memproduksi 30 ton per jam minyak goreng. “Kalau tidak kami prioritaskan yang di pabrik, buah itu bisa busuk. Kemudian baru sawit yang masuk belakangan. Kami harap, pemilik sawit sabar mengantre. Semua kita layani sesuai prosedur,” pungkas Hasan.

Seperti diberitakan sebelumnya, salah satu mesin penggiling di PKS Cot Girek dilaporkan rusak. Akibatnya, puluhan truk yang membawah tandan buah segar (TBS) harus antre di depan perusahaan itu karena tak diizinkan masuk.(c46)

Sumber : Serambinews.com

Minggu, 05 Juni 2011

Pabrik PKS Rusak, Produksi Terhenti

Sat, Apr 2nd 2011, 16:11

LHOKSUKON – Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Cot Girek, Kecamatan Cot Girek, Aceh Utara, dinyatakan rusak. Akibatnya, pabrik pengolah minyak goreng itu tidak berproduksi. Informasi yang dihimpun Serambinews.com, Sabtu (2/4/2011), menyebutkan kerusakan mesin pabrik itu terjadi, Sabtu (2/4/2011) dinihari.
Akibatnya, puluhan truk pengangkut tandan buah segar (TBS) sawit menumpuk di depan pabrik tersebut. Salah seorang pemilik TBS, Abdurahman (46) warga Desa Keude Panton Labu, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, kemarin, menyebutkan pihaknya tidak diberitahun oleh manajemen PKS Cot Girek terkait adanya kerusakan pabrik itu.
Sementara itu, dihubungi terpisah, Kepala Bagian Humas PKS Cot Girek, Akob, menyebutkan dirinya tidak mengetahui terjadi kerusakan pabrik. “Saya tidak tahu. Saya sedang sekolah saat ini di luar Aceh Utara. Mungkin, karena kerusakan malam hari, jadi terpaksa diberitahu pagi hari,” ujar Akob.
Sementara itu, Manajer PKS Cot Girek, Irfansyah tidak berhasil dikonfirmasi. Nomor handphone yang biasa digunakan tidak aktif, pesan singkat yang dikirimkan Serambi, terkait kapan beroperasi kembali pabrik itu dan mengapa tidak diberitahu kerusakan pada konsumen, hingga berita ini dikirimkan kemarin sore juga belum dibalas oleh Irfansyah. (masriadi sambo)

sumber : Serambinews.com

Pemkab Diminta Perbaiki Jalan Rusak

Sat, Apr 2nd 2011, 10:16

LHOKSUKON - Warga Langkahan, Aceh Utara meminta pemkab setempat segera memperbaiki jalan sepanjang 11 kilometer menuju kawasan yang kini kondisinya rusak parah. Permintaan itu disampaikan sejumlah tokoh masyarakat dan perangkat desa di kecamatan tersebut dalam pertemuan dengan Bupati Aceh Utara Ilyas A Hamid yang berkunjung ke kawasan itu, Kamis (31/3) sore.

Dalam pertemuan yang berlangsung di kantor camat setempat dan dipandu Camat Langkahan, Amir Hamzah, warga juga meminta pemkab menyediakan handtraktor bantuan bagi mereka. Karena, menurut warga, karena kekurangan handtraktor, selama ini masa tanam di kecamatan itu tak serentak. Akibatnya, setiap tahun padi di kawasan tersebut nyaris gagal penen atau hasilnya tak mencapai target.

Masyarakat juga mengeluhkan pemberdayaan ekonomi masyarakat yang dinilai tak adil. Buktinya, bantuan sering tak tepat sasaran. “Ke depan, kami berharap pemerintah hendaknya memberikan bantuan modal usaha kepada orang yang benar-benar membutuhkannya,” kata beberapa warga dalam pertemuan yang tak terencana itu.

Menanggapi permintaan masyarakat, Bupati menyatakan pihaknya dan DPRK setiap tahun menganggarkan dana kepentingan publik sesuai kebutuhan. Seperti jalan dalam kabupaten, irigasi, perkebunan dan pertanian. Hanya saja, menurut Ilyas, karena kebutuhannya semua serentak sehingga harus dibagi rata, meskipun bantuannya tidak sesuai dengan keinginan masyarakat.

Terkait handtraktor, Bupati berjanji akan coba dianggarkan. Namun, menurutnya, hal itu harus dimusyawarahkan dulu dengan pihak terkait seperti DPRK bagaimana mekanisme pengadaannya. “Tapi, kita akan upayakan semua keluhan masyarakat untuk ditanggapi dengan dicari solusi terbaik,” ujar Ilyas.(ib)

Sumber : Serambinews.com